Back to Kompasiana
Artikel

Ib Bloggercompetition

Dedy Riyadi

saya hanya ingin jadi terang dunia

Bersedekah

OPINI | 29 July 2010 | 01:27 Dibaca: 140   Komentar: 2   0

Salah satu cara untuk menumbuhkan empati kepada manusia lain adalah dengan bersedekah. Di dalam ajaran agama manapun bersedekah sangat dianjurkan. Dalam sebuah kisah dari agama Budha diceritakan seorang pertapa yang rela memotong pahanya untuk memberi makan kepada seekor harimau yang kelaparan. Dan kemudian, pertapa tersebut mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya. Dalam sebuah cerita islami dikatakan seorang pelacur pun dapat masuk surga karena dia memberi minum seekor anjing yang kehausan. Artinya bersedekah tidak sebatas pada manusia saja tetapi juga kepada alam.

Baru-baru ini, dipersoalkan mengenai berdonor organ tubuh. Konon, dalam pertimbangan akhirnya, mendonorkan organ tubuh harus benar-benar dalam kondisi yang mendekati kematian. Bahkan pendonor harus dinyatakan meninggal terlebih dahulu, baru boleh didonorkan. Hal ini menurut para dokter sangat riskan. Bahkan para dokter menyatakan akan banyak eksodus pasien dari Indonesia ke luar negeri untuk urusan donor ini. Padahal untuk penyakit gagal ginjal, gagal hati, ataupun donor sumsum tulang belakang itu sangat penting bagi kelangsungan hidup pasien.

Tapi, biarlah itu menjadi polemik. Sebenarnya yang ingin saya katakan adalah bahwa bersedekah ternyata lebih dari sekedar berderma. Dalam sebuah ayat dalam alkitab dikatakan Isa Almasih meminta seorang pemuda kaya untuk menjual seluruh hartanya dan membagikan semua hasil penjualan itu untuk orang miskin. Jadi tidak sedikit yang harus dikeluarkan melainkan seluruhnya. Bahkan seluruh hidupnya.

Inilah yang jarang sekali dipikirkan orang. Bersedekah dianggap hanya segelintir rejeki yang kita punya untuk dibagi. Bersedekah ternyata tolok ukurnya adalah niat. Seberapa besar niat kita, bukan seberapa banyak yang akan dibagi.

Seorang janda tua yang menyumbang ke tempat ibadah 2 keping perak dikatakan telah benar-benar berkorban oleh Isa Almasih dibandingkan orang lain. Karena setelah dia menyumbang 2 keping perak itu, dia tidak tahu harus makan apa.

Jadi, perbaikilah niat bersedekah kita mulai sekarang. Berapa pun atau apa pun bentuknya yang penting bukan sekedar ikhlas tetapi memang berniat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 6 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 8 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 10 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: