Back to Kompasiana
Artikel

Ib Bloggercompetition

Iwan Setiawan

Hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.

Lingkaran Setan Kemiskinan

OPINI | 16 July 2010 | 04:11 Dibaca: 1219   Komentar: 9   2

Dulu waktu saya dan istri masih menjadi orang miskin kuadrat (karena saking miskinnya), memang rasanya hidup sangat sulit, serasa semua serba menghimpit hingga dada ini sulit bernapas lega. Hidup kami serba kekurangan, namun kami selalu menjaga diri dari meminta bantuan orang lain. Mungkin kami terlalu egois dan keras kepala. Tidak ada yang tergambar di otak kami selain rasa optimis. Kami sangat yakin suatu saat nanti kami akan menjadi orang yang mapan. Dan kami juga punya secerca harapan, nanti ketika kami sudah menjadi orang mampu, kami akan mengentaskan orang-orang miskin sebanyak-banyaknya. Kami benci kemiskinan, kami mau membasmi habis kemiskinan itu dari negeri kami. Kami tak ingin melihat ada orang miskin dan hidup serba kekurangan dimuka bumi ini.

Mungkin bagi orang yang belum pernah merasakan jadi orang miskin kuadrat seperti kami, hanya mencibir sambil tersenyum hambar. Tapi wajar, mereka belum pernah merasakan, mungkin baru melihat, bahkan untuk melihatpun pura-pura tidak terlihat. Sebuah gejolak dalam hati kami tiada berhenti selama bertahun-tahun.

Rasa egois kami untuk tidak meminta bantuan orang tua, sanak saudara dan teman-teman, membuat kami mengandalkan Bank Plecit (kredit yang dibayar harian) dengan bunga 30% perbulan untuk menyambung hidup kami. Dari uang pinjaman yang tak lebih dari 25.000 itulah kami berusaha melanjutkan hidup dan tetap bisa mengembalikan pinjaman beserta bunganya. Berbagai macam usaha kami jalankan untuk memutarkan uang yang hanya sedikit itu, dan hasil usaha itulah kami bisa membeli sesuap nasi, membayar kontrakan walaupun sering terlambat, membayar listrik dan mengembalikan pinjaman beserta bunganya setiap hari. Bisa dibayangkan, dengan bunga 30% sebulan, saya yakin tidak akan ada pengusaha besar sekalipun yang berani ambil risiko mengambil kredit untuk membuka usaha baru. Tapi kami berani, karena tidak ada jalan lain lagi. Hanya itu pilihan yang bisa kami tempuh untuk tetap melanjutkan hidup hingga esok pagi.

Disatu sisi saya sangat mengutuk praktik rentenir yang dibalut dengan nama formal koperasi seperti ini. Karena inilah awal mula lingkaran setan kemiskinan dan  tidak mudah diputus. Ada jutaan orang dinegeri kita tercinta ini yang masih terjebak dan secara terpaksa menjebakkan diri pada praktik rentenir ini. Inilah praktik yang memperpanjang masa kemiskinan seseorang. Orang miskin akan tetap hidup, karena tetap mendapatkan pendapatan dari uang hasil usahanya, namun tidak pernah lepas dari kredit rentenir, karena sebenarnya hasil usaha tersebut tidak cukup untuk mengembalikan pinjaman beserta bunganya yang mencekik.

Tapi disisi lain, saya juga berterimakasih kepada rentenir keparat itu, karena jasanya kami masih bisa melanjutkan hidup, walaupun hanya sekedar hidup dan tidak pernah bisa berkembang apalagi merubah hidup menjadi lebih baik. Disaat tidak ada orang-orang baik yang mengulurkan tangan untuk memberikan pinjaman berbunga lunak tanpa agunan, mereka memberikanya, walaupun harus dengan bunga sangat tinggi.

Kadang dalam hati juga berontak, “persetan dengan bank syariah”. Untuk apa bank-bank kaum berkopiah itu mengatasnamakan syariah, kalau kami orang-orang miskin tidak bisa meminjam tanpa agunan. Apa yang akan kami agunkan, sedangkan tanah secuilpun kami tidak punya?. Lalu katanya bisa tanpa agunan, tapi harus punya usaha tetap lebih dari 2 tahun dan lulus survey, punya laporan keuangan yang baik dan menguntungkan. Padahal usaha kami tidak menentu, kadang jualan gorengan, kadang jualan es cendol, kadang jualan rambutan saat musim rambutan tiba, pokoknya apa saja yang bisa memperpanjang hidup kami. Tapi semua itu tidak bankable, sehingga tidak ada satu bank pun yang mau menyentuh kami. Mereka memilih orang-orang kaya yang menurut mereka pasti bisa bisa mengembalikan pinjaman, walaupun kadang malah ngemplang milliaran rupiah, bahkan trilyunan.

Padahal walupun kami miskin, kami selalu membayar hutang yang kami pinjam. Kami tahu mana halal dan mana haram. Kami menyadari sudah hidup susah didunia, kami tidak mau susah diakhirat dengan merugikan orang lain. Tapi tidak ada yang bisa percaya ini kecuali rentenir tadi. Orang-orang yang katanya beriman dan berakhlak tinggi justru berfikir negatif kepada kami. Tapi bagaimanapun kami juga sadar, wajar kalau mereka tidak percaya, mungkin orang-orang itu menggeneralisasi mentalitas orang-orang miskin terhadap kami.

Mungkin berdosa juga kami telah menganggap tidak ada lagi orang yang peduli terhadap kehidupan orang-orang miskin. Akhir-akhir ini kami mendengar ada seorang yang sangat bijak telah mendirikan bank kaum miskin di Bangladesh, Muhammad Yunus. Kami jadi ingin tahu bagaimana Muhammad Yunus menjalankan Grameen Bank nya untuk membantu mengeluarkan kaum miskin dari lingkaran setan rentenir. Ternyata sangat berhasil dan malah sudah tersebar kebeberapa negara sampai ke Filipina, Amerika dan negera lain. Kami juga mendengar Presiden kita sempat mengundang Muhammad Yunus untuk berdiskusi masalah itu, tapi kami tidak pernah tahu aplikasi hasil diskusinya.

Dengan tulisan ini, saya mengetuk hati pembaca sekalian, mari kita peduli kepada orang-orang miskin disekeliling kita. Mari kita bantu mereka sampai batas kamampuan kita agar mereka keluar dari jeratan rentenir yang menghisap seluruh darah dan sumsum kaum miskin. Mudah-mudahan dengan kita membantu mereka, Tuhan juga akan membantu kita. Amin.

Dan kepada bank syariah, tolong dipikirkan metode yang tepat untuk penanganan kaum miskin ini, agar mereka tidak lagi bergantung pada rentenir. Yakinlah, kalau menangani kaum miskin tidak akan rugi, Grameen Bank telah membuktikanya. Tingkat pengembalian kredit kaum miskin bisa pada kisaran 98%.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 12 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 13 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 14 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 15 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: