Back to Kompasiana
Artikel

Ib Bloggercompetition

Miftah Andriansyah

saya adalah mahasiswa program doktor teknologi informasi universitas gunadarma angkatan XI

Kenapa harus (Bank) Syariah?

OPINI | 22 March 2010 | 09:13    Dibaca: 171   Komentar: 1   0

Assalamu’alaikum.

Posting-an ini yang pertama kali saya tulis, setelah mendaftarkan akun di Kompasiana.

Saya tidak mempunyai produk syariah, walaupun saya mempunyai akun di salah satu bank syariah. Kenapa saya katakan tidak mempunyai, karena saya tidak aktif lagi dalam menggunakan rekening tersebut. Terakhir mungkin 3 tahun lalu saya mengambil uang dari rekning tersebut.

Pada mulanya saya sangat antusias akan bank syariah tersebut karena (saya fikir) menjanjikan, tapi seiringnya waktu lama kelamaan antusiasme saya surut. Tidak tahu saya mengapa itu terjadi, namun ada beberapa alasan yang (mungkin) menyebabkan surutnya antusiasme saya akan bank syariah tersebut:

1. Komunikasi dengan pelanggan atau calon pelanggan sepertinya kurang, seperti minimnya promosi dan edukasi ke pelanggan seperti saya, apalagi yang bukan pelanggan.

2. Terkait komunikasi di atas, kebetulan saya seorang muslim, yang awalnya dengan antusias berpartisipasi dalam produk perbankan yang (relatif) baru di Indonesia, harusnya lebih mudah dalam mengedukasi masyarakat muslim dibandingkan non-muslim yang secara dogma dan ajaran agama terkait langsung dengan produk ini. Namun nyatanya antusiasme itu terdegradasi dengan sendirinya.

3. Keraguan atas “kemurnian” syariah itu sendiri. Jujur, saya katakan, dengan banyaknya info dari media dan sedikit analisis pribadi, muncul keraguan atas produk perbankan syariah. Kenapa? Yang paling simple adalah masih (terkesan) tercampurnya antara produk syariah dan konvensional hal ini terlihat dari mata awam saya, memang semakin banyaknya bank syariah namun kebanyakan masih menginduk pada bank yang non syariah alias konvensional. Kita lihat, Bank Mandiri Syariah menginduk pada Bank Mandiri (konvensional), Bank Mega Syariah menginduk pada Bank Mega (konvensional), BII Syariah menginduk pada BII (konvensional), dan lain sebagainya.

Pertanyaann untuk keraguaan ini, adalah apakah sesuatu yang syariah dapat tercampur dengan yang non syariah baik produk maupun pengelola/pemiliknya dapat kita yakini kemurniaan syariah itu sendiri?.

Alasan dan pertanyaan itu adalah pertanyaan orang awam yang ingin tau lebih banyak tentang produk/bank syariah yang ada di Indonesia. Mudah-mudahan yang berkompeten bisa menjawabnya.

Wassalam

Miftah Andriansyah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pulang ke Solo, Presiden Kejutkan Arena CFD …

Niken Satyawati | | 24 May 2015 | 22:16

Rencana Aji Santoso dan Fakhri Husaini …

Achmad Suwefi | | 25 May 2015 | 06:53

Fakta-Fakta Menarik Seputar Gowes …

Rifki Feriandi | | 25 May 2015 | 05:38

6 Dari 10 Teman Saya Melakukan Operasi …

Gitanyali Ratitia | | 25 May 2015 | 01:26

Saksikan Live Streaming Kompasiana Seminar …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 10:47


TRENDING ARTICLES

Beras Plastik Buatan PDIP, KMP atau Mafia …

Imam Kodri | 5 jam lalu

Joko Widodo Presiden Kebetulan …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

Etika Presiden Naik-Turun Pesawat dengan …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Kisruh Golkar Senjata Jusuf Kalla, Petral …

Ninoy N Karundeng | 21 jam lalu

Lecehkan Ras Sunda, Color Run Subang Dicekal …

Jadiah Upati | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: