Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Ib Bloggercompetition

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Sholehudin Abdul Aziz

Perjalanan hidupku tak ubahnya seperti aliran air yang mengikuti Alur Sungai. Cita-citaku hanya satu jadikan aku orang yang bermanfaat bagi orang lain. Maju Terus Pantang Mundur. Jangan Bosan Jadi Orang baik. Be The Best.

Rumah Idaman dan Bank Syariah

REP | 10 March 2010 | 15:30 309 5 1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat

Memiliki sebuah rumah pribadi di Jakarta bagi siapapun termasuk saya adalah suatu kebanggaan tersendiri yang tak terkirakan. Namun tidaklah mudah merealisasikannya! Apalagi di tengah melonjaknya harga rumah dan kesulitan keuangan bila harus membelinya secara tunai. Ditengah kesulitan diatas ternyata masih ada “jalan lain” dan merupakan alternative satu-satunya untuk ditempuh yaitu dengan system kredit melalui jasa-jasa perbankan yang ada.

Pilihannya hanya ada 2 yaitu mengambil kredit perumahan rakyat atau dikenal dengan KPR melalui jasa perbankan konvensional dan syariah. Sekarang terserah kita mau mengambil yang mana? Yang pasti, berbagai fasilitas kredit yang ada dari berbagai bank konvensional dan syariah masing-masing memiliki keunggulan tersendiri. Fasilitas kredit perumahan yang ideal dicari setiap orang adalah yang murah, mudah dan terjangkau.

Petualangan mencari skema kredit perumahan yang ideal diatas sungguh melelahkan karena banyaknya alternative pilihannya. Perlu energi khusus untuk bisa membandingkan masing-masing pola pembiayaan dari setiap bank baik bank konvensional maupun syariah demi mendapatkan skema kredit terbaik

Hampir setahun saya berupaya mencari skema kredit perumahan terbaik dan akhirnya pilihan saya jatuh ke Bank syariah (bank Muamalat). Mengapa harus ke perbankan syariah dan tidak ke perbankan konvensional?

Berdasarkan pengalaman penulis, Mayoritas perbankan konvensional menawarkan skema kredit berbasis bunga, dimana bila diteliti lebih jauh mempunyai potensi kenaikan bunga cicilan yang tidak fix alias tergantung suku bunga berjalan kala itu. Sebagai konsekuensinya – berdasarkan testimony beberapa kawan yang mengambil kredit di bank konvensional – seringkali jumlah cicilan per bulan yang harus disetor ke bank naik tanpa sepengetahuan nasabahnya. “Paling-paling tetap, namun sangat jarang atau bahkan tidak ada yang mengalami penurunan, yang ada malah kenaikan. Itupun kadangkala tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada para nasabah”.

Sementara itu untuk perbankan syariah, realitasnya memang tidak berbasis bunga, cicilannya tetap, dan tidak terlalu sulit prosesnya. Seluruh proses dari awal pengajuan hingga diterimanya pengajuan kredit yang saya minta, berjalan lancar dan tidak menemui hambatan berarti. Dan akhirnya cita-cita saya memiliki rumah idaman bersama keluarga tercapai sudah…alhamdulillah.

Yang membuat saya lebih bahagia lagi, ternyata banyak kawan-kawan saya yang sudah terlanjur mengambil skema kredit di perbankan konvesional merasa “salah pilih”. Mereka beralasan, cicilan perbulan yang harus ditunaikannya terlalu besar, apalagi dengan cicilan yang tidak fix. Mereka sungguh menyesal dan berniat untuk memindahkan skema kreditnya ke perbankan syariah (Muamalat).

Saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang memiliki cita-cita memiliki rumah idaman namun belum memiliki dana tunai yang cukup…….skema kredit kepemilikan rumah melalui perbankan syariah bisa jadi alternative terbaiknya. Skema ini lebih lebih jelas akadnya, murah dan mudah prosesnya. Terima kasih Perbankan syariah terutama bank muamalat yang sudah membantu merealisasikan cita-cita saya. Semoga bisa bermanfaat.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012