Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Ib Bloggercompetition

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Anendy .

cuma punya mantra " Tung alang-alang kodok pinggir kali, kalo kenal jangan kepalang akrab sama sekali "

BANK SYARIAH = Bank + Syariah ?

OPINI | 10 March 2010 | 16:52 124 3 Nihil

Assalamu’alaikum,

Mungkin masyarakat awam yang kurang berinteraksi dengan pola perekomian terstruktur maka kala mendengar kata bank, langsung berfikir dengan tabungan simpanan + bunga dan pinjaman = pengembalian  + bunga. dan bila didengarkan lagi kata bank + syariah, maka yang ada dibenak mungkin adalah bank yang di dalamnya terdiri ( maaf ) dari orang-orang muslim yang melakukan kegiatan tersebut di atas. Dari ungkapan tersebut dapat sementara ditarik garis bahwa ketidak mengertian dan kekurang informasian dikalangan awam seperti di atas tadi memacu kurang populernya Bank Syariah di kalangan masyarakat Indonesia yang saat ini masih sulit mendapatkan informasi yang menggunakan tata kalimat yang dapat dimengerti oleh masyarkat pada umumnya.

Dari Artikel dan tulisan yang saya baca mengenai referensi dan keunggulan iB Syariah, banyak terdapat kalimat yang masih membingungkan sehingga membuat keraguan dalam orang menanamkan investarinya walaupun kecil nilainya, walau akhirnya pada akhir tulisan penjelasan tersebut tertera kalimat ” Tentu saja dalam prakteknya nasabah iB tidak perlu terlalu pusing dengan perhitungan njlimet bagi hasil semacam ini. Masyarakat hanya tinggal menanyakan berapa rate indikatif ………… Jadi masyarakat dengan cepat dan mudah dapat menghitung berapa besar keuntungan yang akan diperolehnya dalam menabung sekaligus berinvestasi di bank syariah. Sangat mudah bukan?” tapi apa masyarakat dengan mudah dapat melangkahkan kakinya ke Bank Syariah . Mungkin saya adalah salah satu masyarakat tersebut dan memang sampai saat ini saya tidak terdaftar dalam kegiatan perbankan manapun. Pernah jadi salah satu nasabah bank swasta tapi dengan nilai nominal yang saya punyai, bunga pendapatan tidak cukup untuk menutupi biaya administrasi, jadi otomatis tutup sendiri no rek tersebut. Memang dengan kita membaca dan mengikuti perkembangan maka kita dengan mudah dapat memahami uraian tersebut apalagi bagi mereka yang mengeyam pendidikan tinggi dan memiliki titipan harta yang lebih dibandingkan orang lain dari Allah. Tapi bagi orang-orang yang tidak mampu menelaah hal tersebut pasti yang terbayang hanya ” wah repot dan takut “. Sebagai contoh yang mungkin tidak relefan dan sepadan yaitu ” Koperasi”. Saat ini saya lebih memilih koperasi kredit( KOPDIT) sebagai tempat saya menabung. Tidak ada bunga, tapi bagi hasil ( SHU ) pertahun. Laporan keuangan koperasi dapat saya lihat pertriwulan bahkan perbulan walau memang harus kekantor koperasi yang bersangkutan begitupun dengan penarikan simpanan, agak repot memang. Dan yang lebih terasa lagi adalah anggota dapat meminjam dana untuk modal usaha rata-rata 3 kali nilai simpanan atau berdasarkan jaminan anggota yang lain tanpa agunan. Sekali lagi maaf atas contoh yang mungkin kurang relevan tersebut. Tapi dari contoh kecil tersebut dapat dimaknai bahwa dana yang tersimpan dapat  dirasakan langsung bagi anggota hingga masyarakat yang mendengar dan sebagai calon anggta akan merasa mendapatkan haknya karena yang terbangun imige di masyarakat selain menabung adalah meminjam. Setahu saya diperbankan belum menerapkan sistem ini ( atau mungkin saya yang kurang informasi ), entah kalau Bank Syariah. Artinya bahwa apabila informasi yang disampaikan pada masyarakat lengkap dan jelas mungkin saya optimis Bank Syariah akan mendapat tempat yang khusus di hati masyarakat, apalagi sesuai dengan identitas nama yang cenderung kearah islami bila di hubungkan dengan mayoritas penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam walaupun mungkin sebenarnya bukan itu tujuan utamanya.  Dari uraian di atas dapat saya tarik kesimpulan saya pribadi bahwa :

1. Informasi yang lebih jelas dan menjangkau kalangan masyarakat bawah hendaknya lebih difokuskan   lagi dan mungkin dengan cara yang lebih mengikut sertakan masyarakat dalam kegiatan tersebut.

2. Persentase serapan dana berbanding dana yang disalurkan kembali ke masyarakat dapat berimbang karena saya yakin masyarakat Indonesia memiliki rasa keperdulian untuk maju dan berkembang serta berkehidupan lebih baik dengan mencoba berwiraswasta.

3. Mempermudah pola pinjaman tanpa prosedur yang rumit dan tidak terjangkau masyarakat awam yang ingin mengembangkan usahanya.

Demikian terima kasih atas kesempatan ini semoga saya dan yang lain dapat menjadi nasabah Bank syariah dengan tanpa ada rasa takut dan kebingungan dan “SEMOGA BANK SYARIAH MENDAPAT TEMPAT YANG KHUSUS DI HATI MASYARAKAT INDONESIA “ amin

Wassalamu’alaikum


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012