Ib Bloggercompetition
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Friendly, Imaginative, Care, Kind, Assertive, Respect. Lelaki sederhana dari kota kecil Jeuram, Nagan Raya-Aceh. Mengabdi di Gegerkalong, Bandung. Email: fickar_atjeh@hotmail.com
Bank Syariah: Bunga Tidak Haram
Zulfikar Akbar
|  14 Desember 2009  |  00:00
693
92
24 dari 28 Kompasianer menilai Bermanfaat.
Bunga cinta untuk Bank Syariah (?)

Bunga cinta untuk Bank Syariah (?)

Bagaimana kalau Bank Syariah menjalankan kebijaksanaan untuk nasabahnya, dengan membuka diri untuk juga bersedia memberi bunga?

Tetapi sebentar dulu, saya tidak ingin anda membaca tulisan saya ini dengan kening mengerut. Toh, seseorang yang cerdas tidak selamanya identik dengan kening yang mengerut bukan?

Nah, saya mengajak anda dulu untuk membayangkan bunga dari perspektif lain. Bunga yang sebenarnya, bukan bunga seperti yang umumnya dikenal dalam dunia perbankan. Tetapi memang bunga yang enak dipandang, menyejukkan mata dan hati, plus menyenangkan. Baik dengan aromanya yang harum, hingga bentuknya yang memang indah.

Kenapa saya mengajak seperti itu. Tidak lain, agar kita tidak lagi mengatakan bunga itu haram (nah lho?). Tetapi justru mencoba mengambil nilai filosofi dari bunga. Iya, dari bunga (bukan bunga bank). Kenapa saya menyebut demikian, apalagi iramanya memang terlihat sedikit menggurui. Sedangkan jamak diketahui, personel di Bank Syariah pastilah orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Memiliki kualifikasi yang memang dibutuhkan untuk menjalankan usaha perbankan dalam skala besar.

Dalam hal ini, saya tidak berniat untuk menyepelekan semua kapasitas yang dimiliki perbankan syariah sebagai kekuatannya. Namun lebih mencoba melihat dari perspektif, bahwa bank ini dijalankan oleh manusia dan untuk manusia. Utamanya pada sisi layanan—karena berbicara layanan (atau pelayanan?)—, menyimak dari berbagai tulisan yang pernah turun di iB Competition saja, begitu banyak yang mengeluarkan keluhan yang berhubungan dengan (pe)layanan dari Bank Syariah. Ini idealnya harus dilihat betul.

Oke, lembaga ini tidak menjalankan kebiasaan mengambil atau memberikan ‘bunga’ kepada nasabah. Namun, dalam hal layanan kalau bisa, mbok ya (spesifik dalam hal pelayanan) diusahakan yang betul-betul mencerminkan filosofi bunga. Menyenangkan, enak untuk dilihat nasabah, menyejukkan nasabah dan betul-betul bisa menebar harum sekuntum bunga —harumnya Bank Syariah—. Bagaimana kondisi pelayanannya, sekali lagi harus betul-betul dilihat ulang dengan jujur. Karena ini juga berkait juga dengan persoalan sustainabilitas relasi baik antara Bank Syariah dengan nasabah. Saya sengaja tidak menjurus langsung untuk menohok. Namun, saya kira pihak pengelola Bank Syariah cukup kapabel untuk memahami arah ‘obrolan’ saya—yang juga nasabah Bank Syariah—.

Kuntum khaira ummati ukhrijat lin-naas, ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna anil munkar

Publish also in:

http://www.facebook.com/group.php?gid=7689346094&ref=mf

http://www.facebook.com/pages/RepublikaOnline/225952730433?ref=mf

http://refleksikita.wordpress.com/2009/12/14/bank-syariah-bunga-tidak-haram/

http://fickartjeh.blogdetik.com/2009/12/14/bank-syariah-bunga-tidak-haram/

http://zoelf-achbar.blogspot.com/2009/12/bank-syariah-bunga-tidak-haram.html?zx=7678eef7f458fe38


Tags: bank syariah, iBI, zulfikar akbar

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
14 Desember 2009 00:54
0

kritik yang halus….Bang Zulfikar….mudah2an dibaca oleh “mereka”….saya juga merasakan seharusnya Islam, apalagi Bank yang membawa nama Syariah, haruslah lebih mantap pelayanannya dibanding bank pada umumnya…..

salam sukses selalu ::)

14 Desember 2009 | 01:16
1

Trims Ivan untuk dukungannya Ivam. Iya, kita sama-sama mendoakan hal itu bisa direalisasikan, insya Allah

14 Desember 2009 01:24
0

Benar sekali Bang Fikar. Perbankan syari’ah perlu menerapkan falsafah bunga (bagaimana memberi pelayanan terbaik kepada nasabah). Hingga sekarang, masyarakat kurang meminati bank “profit sharing” ini dan lebih suka perbankan konvensional. Ini di antaranya karena bank-bank syariah masih dinilai belum profesional dibanding bank yang memakai sistem bunga sebagai kompensasi bisnis.

Apalagi, ada sebagian ulama yang berpendapat bunga bank tidak termasuk riba karena masih dalam batas wajar. Maka, kalau bank-bank syariah ingin memasyarakat, mereka wajib meningkatkan pelayanan seperti perbankan konvensional telah lakukan. Jadi, tidak lagi bicara haram-halal, melainkan soal mengapa lebih menguntungkan nasabah.

14 Desember 2009 | 01:51
0

Nah, hal ini menjadi bagian yang memang harus lebih diperhatikan pihak Bank Syariah. Kendati terlihat selama ini sudah begitu lumayan keluar dari ekslusifitas. Namun, dari berbagai keluhan yang kita temukan, sepertinya memang Bank Syariah di negara kita idealnya lebih ekstra berbenah dan terus berbenah.

Trims Mas Firman

14 Desember 2009 | 02:11
0

Betul sekali Bang, harus berjuang lebih keras lagi agar dilirik nasabah. Tetapi saya melihat perkembangan perbankan syariah di Tanah Air sudah lumayan. Sebagai barang baru, tentu saja kontribusinya masih jauh lebih kecil dibanding bank konvensional.

Keberhasilan perbankan syariah di Indonesia, dari pengamatan saya, lebih karena banyak orang percaya bunga bank itu haram. Saya kira, ke depan prinsip halal-haram itu tidak boleh lagi terlalu ditonjol-tonjolkan dalam kampanye.

Bank syariah harus mampu meyakinkan publik bahwa sistem bagi hasil itu memang rasional menurut terma-terma bisnis. Sehingga, bank ini akan mampu mengikat nasabah yang percaya bunga itu haram, sekaligus menjaring mereka yang yakin sistem bagi hasil ini memang menguntungkan secara bisnis.

14 Desember 2009 | 02:31
0

saya kira idenya Mas Firman sangat progressif. Memang, itu merupakan sebuah pilihan bijak yang ideal untuk di implementasikan agar Bank Syariah ini tidak tertinggal di belakang. masukan mas firman ini sangat realistis, pastinya sangat bermanfaat untuk menjadi bahan kajian lebih serius pula di pihak pengelola Bank Syariah. Amien.

Memang satu sisi perkembangan Bank ini sangat baik—setidaknya akhir-akhir ini–, namun begitu jikapun sudah memiliki beberapa prestasi, sebaiknya memang semua pencapaian itu bisa menjadi cambuk untuk Bank Syariah lebih gencar berlari jika dunia perbankan kita gambarkan sebagai lomba maraton. Saya malah memimpikan, bisa meninggalkan jauh Bank Konvensional jika memang Bank Syariah memiliki sisi lebih plus.

Demikian. Trims Mas Firman

14 Desember 2009 | 03:30
0

setuju!

14 Desember 2009 | 03:43
0

Inge antusias banget=)

14 Desember 2009 | 04:07
0

Sesuatu yang sifatnya positif patut kita dukung. Bukan begitu, bang? ;)

14 Desember 2009 | 04:19
0

Tentu Inge, iya, seseorang yang mendukung sesuatu yang diyakini positif bisa dijadikan indikasi orang tersbeut sebagai pecinta kebaikan. Lagi, Trims Inge

14 Desember 2009 | 04:27
0

hehehehehe….selalu aja! ;)

14 Desember 2009 | 08:08
0

Selalu aja apa Inge?

14 Desember 2009 | 08:24
0

Idem saya Om Firman!!
Setuju sama Mba Inge!

14 Desember 2009 | 08:28
0

Selalu aja memuji, bang… :P

14 Desember 2009 | 08:32
0

Izzah: tuh, namanya Izzah gak kreatif kalo ikut aja=)

14 Desember 2009 | 08:33
0

Setiap kebaikan layak dihargai Inge, bukan di puji. Itu bukan pujian tapi penghargaan untuk sebuah kebijaksanaan yang terpancar dari seorang Inge

14 Desember 2009 01:41
1

Setuju dengan anda bang Zul, sudah sepantasnya Bank Syariah akan lebih memberikan pelayanan yg lebih bagus kepada para nasabahnya karena mereka mengusung syariah2 dalam semua kebijakan2 dan peraturan2nya.

Saya tidak tahu banyak tentang dunia perbankan, saya hanya mendapat pengetahuan sedikit2 tentang dunia perbankan karena kebetulan suami saya bekerja di salah satu Bank Syariah. InshaAllah, Keuntungn yg diperoleh nasabah dari bank syariah adalah halal. Karena semua kebijakan2 dan peraturan2 yg dipakai dalam bank syariah tidak ada yg bertentangan dengan syariah Islam..

Great articel, bro..!!

14 Desember 2009 | 01:55
0

Dalam hal ini, kita sama-sama bukan pemilik spesialisasi bidang perbankan. Tetapi, refleksi seperti ini setidaknya menjadi kontribusi berarti juga untuk kampanyekan Bank Syariah yang notabene juga menjadi akselerator terhadap ‘pamor’ Islam sendiri.

Menarik sekali yang Nining sebutkan yang bahwa faktor kehalalan itu (halalan thayyiban), mesti juga ditopang dengan pelayanan yang tidak kalah dengan Bank Konvensional. Karena jelas ini berkait erat pada hubungan lebih lanjut dengan nasabahnya

14 Desember 2009 01:43
0

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia pada dasarnya bukan karena kiislamannya tetapi target pasarlah yang menjadi tujuan. Pengembangan perbankan syariah masih menginduk pada perbankan konvensional dan masih dalam taraf penyesuaian system. Akibatnya, overhead cost perbankan syariah menjadi lebih mahal dari perbankan konvensional sedangkan perhitungan bagi hasilnya tetap berpatokan pada bunga perbankan konvensional.

Dengan keadaan tersebut, perbankan syariah terpaksa melakukan penghematan dalam pemberian pelyanan karena marginnya yang lebih tipis dan lebih terfokus pada beda istilah saja. Jika anda masuk dalam operasional bank syaiah, maka akan sangat ketara sekali bahwa perbankan syariah adalah perbankan konvensional tetapi berkulit syariah. Wajarlah kalau nasabah banyak yang kecewa, terutama pada pelayanan yang masih terbatas.

14 Desember 2009 | 01:57
0

Nah, semoga saja, ilustrasi seperti yang Pak Doddy sampaikan ini, lebih jeli untuk dilihat pihak perbankan syariah. Karena jelas sangat disayangkan bila syariah itu hanya menjadi kulit saja.

Trims Pak Doddy, kritik Pak Doddy ini semoga saja juga mejadi pertimbangan serius pihak Bank Syariah di Indonesia.

15 Desember 2009 | 00:45
0

Kalau kritikan2 itu sifatnya untuk membangun kemajuan Bank Syariah, sudah sepantasnya dijadikan masukan oleh pihak Bank syariah..Untuk meningkatkan kinerja Bank Syariah kearah yg lebih baik lagi.

Untuk saya pribadi, saya lebih suka berhubungan dengan bank Syariah karena bunga yg didapat dari Bank Syariah itu InshaAllah halal, sesuai dengan syariah Islam. Biar keuntungan kecil, yg penting halal..

16 Desember 2009 | 03:58
0

Nining, sebuah pertimbangan yang sangat bijak dari seorang muslimah yang istiqamah

14 Desember 2009 01:46
0

Kalau sudah begitu maka tiadalah mengapa kita men-fatwa-kan bahwa bunga bank syariah halal adanya karena ianya beguna bagi sebanyak-banyak umat yang ada

14 Desember 2009 | 01:47
0

karena ia adalah bunga cinta yang memang wajib ditebar kesemua kita

14 Desember 2009 | 01:58
0

Tepat sekali Aduen, bunga cinta. Dalam semua lini idealnya memang cinta itu mestilah ditaburkan, sehingga ia bisa tebarkan aroma harum yang memberi indah dalam jiwa

14 Desember 2009 | 03:31
0

setuju!

14 Desember 2009 | 03:42
0

Trims Inge

15 Desember 2009 | 00:46
0

Sama sama…

14 Desember 2009 02:57
0

bunga..bunga..bunga… saya suka bunga. memanglah meunyo Tgk. Zul tuleh masalah bunga, hana soe ek koh. :)

14 Desember 2009 | 03:23
0

Tgk roeh that. Iya masalah bunga, karena sinan na kandungan cinta. Lagee Tgk mengajarkan cinta dengan seribu kata yang selalu penuh makna

14 Desember 2009 03:34
0

Saya terus terang tidak paham terlalu banyak mengenai Bank Syariah ini selain tentang diharamkannya masalah bunga bank.

Namun membaca ulasan Bang Zul diatas dan juga komentar2x diatas, maka saya pikir apa yang dikemukakan disini sangat bermanfaat dan positif adanya. Dan seperti yang dikatakan oleh Bang Risman soal fatwa halal itu, saya yakin kedepannya Bank Syariah ini akan semakin dilirik oleh nasabah2x lain dan bisa bersaing dengan sehat dengan bank2x konvensional.

14 Desember 2009 | 03:42
0

Terima kasih Inge. Disini terlihat, Inge seorang Kristiani yang sangat bijak. Inge bisa menunjukkan sebuah semangat kebersamaan untuk maju, kendati secara agama berbeda. You’re really wise Inge. Trims ya.

Iya, kita berharap, semoga kedepan semua perbankan di negeri ini bisa tumbuh dan bersaing sehat. Amien

14 Desember 2009 | 04:03
0

Terimakasih sama2x, Bang Zul.

Bang Zul, kalau kita muslim maupun non-muslim masih melihat Bank Syariah ini sebagai bank untuk kaum muslimin saja, maka saya pikir itu suatu kemunduran dan dengan sendirinya bank ini tidak akan dapat berkembang dengan baik.

Maka dari itu saya setuju dengan apa yg dikemukakan dalam diskusi abang dgn Mas Firman dan juga apa yang diusulkan oleh Bang Risman. Juga masukan Pak Doddy sangat positif adanya bagi Bank Syariah untuk mereview sistemnya.

14 Desember 2009 | 04:17
0

Yep, Inge, setuju sekali. Memang, universalitas itu yang idealnya selalu dijunjung. Tidak sekedar sebagai bagian tujuan mengarah pada profit yang yang bisa digapai insttusi, tetapi memang sesuatu yang seharusnya diperjuangkan. Sebagai amanat tersirat juga dari nilai-nilai kebhinnekaan negara kita. Semoga

14 Desember 2009 | 04:25
0

Betul, semoga:)

14 Desember 2009 03:45
0

analisis Ken Arok menarik tuh kayaknya Bang Zulfikar….:)

14 Desember 2009 | 03:47
0

Iya Van, memang, Bang Doddy sosok yang sangat kritis. Hal itu memang layak untuk didalami. Sebuah perspektif yang sangat membangun. Trims Ivan

14 Desember 2009 05:17
0

Jujur saja, saya belum mendapakan kontribusi yang enak dari perbankan macam ini….
Banyak banget persyaratan yang harus dipenuhi, padahal cuma pinjam sedikit untuk dana pengobatan saja, alamaaaak….maaf, jadi belum sepenuhnya percaya!

14 Desember 2009 | 05:23
0

Nah, Bunda sudah menunjukkan sebuah gambaran yang sangat real yang langsung Bunda alami. saya berharap, keluhan dari nasabah seperti bunda ini betul-betul bisa dipertimbangkan oleh pihak pelaksana/ pengelola Bang Syariah di Indonesia. Karena Bank ini adalah Bank yang beranjak dari nilai-nilai Islam, idealnya memang bisa lebih manusiawi. Jiika perbankan lain cenderung lebih mempertimbangkan persoalan profit, semoga saja Bank Syariah bisa lebih berani dari sekedar profit, tetapi untuk kemanusiaan.

Sehingga nilai Islam betul-betul mendapat tempat disana. Semoga saja

15 Desember 2009 | 00:56
0

@ Bunda Pipiet Senja,Yg sabar ya bunda. Biarpun banyak persyaratan yg harus dipenuhi, prosesnya lama dan jumlah uang pinjamannya kecil, tapi yang penting kan..dijamin halal hehehe..

14 Desember 2009 07:27
0

Saran saya, kalau mau menang lomba ini, jangan ngeritik, puja puji aja yang bagus2, dijamin menang deh, hehehe…..

14 Desember 2009 | 08:01
0

prof: hahahaha, sangat jujur hehehehe. Tau aja Prof=)

14 Desember 2009 | 08:08
0

Profesorrrrrrr hahahahahahaha

14 Desember 2009 | 08:27
0

hahahaha,,,,,,,,!!!

15 Desember 2009 | 00:57
0

Izzah.., .ketawanya jangan mangap yahh…!! heuhhhh

14 Desember 2009 07:39
1

Kalau Bank Syariah sudah tak mampu memberi bunga, biarlah bersikap bak bunga. Indah dalam prospek keuangannya, wangi misi serta namanya dan harum pelayanannya. Terbuktilah nanti kan banyak kumbang-kumbang menghampiri begitu juga puan-puan akan menyematkan di hati.

Tapi, kalau sudah tak berbunga dan tak juga indah, wangi dan harum bagai bunga, jadi apakah kelak?
Semoga bukan jadi benalu.

14 Desember 2009 | 07:44
0

daleeemm…

14 Desember 2009 | 07:45
0

Sebuah ‘puisi’ yang sangat indah penuh inspirasi. Iya, semoga tidak menjadi benalu. Dan tidak mengikuti jejak century, karena tentu itu akan menjadi sesuatu yang mengundang ngeri tak berperi

15 Desember 2009 | 01:02
0

Bang Edi puitis sekali ..hehehe.

Berbahagialah gadis yg dipersunting bang Edi Santana..Pasti selalu dikirim puisi cinta tiap hari ( apalagi kalau dikasih bunga bank syariah hehehe..)

14 Desember 2009 07:54
0

Benar sekali Adik Zulfikar, istilah ‘bunga’ inilah yang harus dipahami betul, pada dasarnya bunga adalah sesuatu yang ‘menarik’, yang bisa membuat semua menjadi tertarik akan sesuatu yang ada pada bunga itu, bukankan kupu kupu, lebah dan burung juga tertarik dengan bunga ini?, dan apakah madu yang didapati oleh semua penggemar bunga menjadi haram hukumnya?.
Inilah ‘filosofi bunga’ yang disampaikan oleh adik Zulfikar dengan bahasa yang santun dan komunikatif, sehingga dapat dipahami secara benar tanpa ada yang merasa dirugikan.

Salam sukses dan salam hangat dari kami, Anugra Martyanto

14 Desember 2009 | 07:57
0

Terima kasih Pak Dokter
Iya, nilai itu yang coba saya kemas dalam tulisan sederhana saya disini, semoga saja menjadi bahan pertimbangan pihak perbankan syariah di negeri kita.

Sekali lagi, trims Pak Dokter

14 Desember 2009 08:09
0

Yang jelas tulisan ini sangat bermanfaat dan layak untuk jadi jawara….

14 Desember 2009 | 08:27
0

amin mudah2an!!!

Bang Zul jgn lupa traktirannya ya!!

14 Desember 2009 | 08:30
0

Bang ASA: Ketika Baginda sudah mendoakan, saya kira para malaikat akan ikut mengaminkannya Karena saya percaya, dalam semua ketulusan bang Andy mendoakan, disana ada kekuatan

14 Desember 2009 | 08:31
0

Izzah: traktiran? persoalan traktiran kan kaga musti karena menang lomba2 apapun, tetapi tanpa lomba juga tidak masalah kalo abg berkesempatan kesana, insya Allah

14 Desember 2009 | 08:32
0

Amiiiinnnn!

14 Desember 2009 | 08:33
0

Kapan Bang Zul??
duuh senengx daku, baru denger rencananya aja!!
Mudah2an ya Bang Zul!

14 Desember 2009 | 08:33
0

ha ha haaaa… yang jelas atas nama Penguasa Negeri Ngotjoleria menginstruksikan agar seluruh warga mendukung Bang Zul, salah seorang anggota kabinet Negeri Ngotjoleria untuk memenangkan lomba ini…

14 Desember 2009 | 08:34
0

Akan diberikan kabar kalo abang sudah disana, tenang aja adekku, insya Allah.

Salam sayang selalu dari Abangmu di Tanoeh Aceh

14 Desember 2009 | 08:36
0

Baginda: Ketika titah seorang baginda sudah keluar, saya sebagai seorang abdi yang dipercayakan sebagai bagian dari Kabinet, sangat berterima kasih sekali untuk dukungannya

14 Desember 2009 | 09:30
0

Saya ikut dukung Bang Zul, walau saya ga ngerti tentang bank Syariah..

14 Desember 2009 | 09:32
0

Frans: Trims saudaraku. Dukung dengan gak ngerti semoga menjadi jembatan untuk frans mengenal lebih jauh tentang lembaga perbankan itu, setidaknya sebagai komparansi

14 Desember 2009 | 09:56
0

iya Bang Zul, saya sedikit2 jadi mengert tentang Bank Syariah. Apalagi adanya titah Baginda ASA hahaha…Salam.

14 Desember 2009 | 10:00
0

Sama2 Frans, iya memang Baginda sangat mencintai institusi itu, masuk akal kalo Baginda bersedia menjelaskannya ke Frans. Sekali lagi trims, saudaraku

14 Desember 2009 09:16
0

aku sangat setuju dengan Bagindaku, bahwa tulisan ini layak untuk jadi juara, postingannya sangant bermanfaat.

14 Desember 2009 | 09:31
0

Mbak Gendis: trims untuk dukungannya Mbak

L H
14 Desember 2009 09:18
0

Tulisan yg Bagus utk dibaca dan direnungkan, terutama oleh pemimpin2 dan pegawai Bank Syariah.!

Bank Syariah akan lebih memberikan pelayanan yg lebih bagus kepada para nasabahnya karena mereka mengusung syariah2 dalam semua kebijakan2 dan peraturan2nya. karena mau namanya apa, bank tetap bank tempat urusan uang, dan uang itu bikinan orang bumi juga dipakai hanya dibumi oleh penghuni bumi, maka visi dan misinya jangan terlalu melangit, ya turunlah membumi, karena memang ini urusan bumi bukan urusan langit, jadi sekat2 keagamaan seharusnya dicairkan agar lebih eksis utk diterapkan dalam urusan uang penghuni bumi.!

trims tulisannya ya pak Zulfikar, saya ini buta soal Bank apalagi bank yg ada embel2nya spt Bank Syariah ini, tapi baca tulisan anda, saya bisa jd banyak mengerti.

14 Desember 2009 | 09:25
0

Trims Mbak Lianny, sebenarnya tulisan ini memang coba saya lihat dari perspektif filosofinya. Begitu, masukan dan pertimbangan Mbak Lianny bahwa Bank Syariah harus lebih membumi memang sangat positif dan menjadi sesuatu hal yang niscaya, jika memang Bank Syariah punya visi jauh ke depan. Jika jumlah muslim terbesar sebagai patron saja tentu tidak akan menjadi sebuah pilihan bijak, tetapi memang kemampuan mereka untuk ‘lebih serius’ keluar dari eksklusifitas menjadi sesuatu hal yang WAJIB—sebagai implementasi konsep membumi–.

Sekali lagi, trims Mbak Lianny

14 Desember 2009 09:23
0

Bank syariah sekarang ini, seolah berlomba dengan bank2 non syariah untuk dapat menarik banyak nasabah. Sekarang justru bank2 syariah mengesampingkan nilai2 islam yang seharusnya menjadi pedoman dan pondasi didirikannya bank syariah. Patut direnungkan..

14 Desember 2009 | 09:28
0

Yep, tepat Dek Norika. Persoalan kompetisi itu mungkin sesuatu yang normal ya. Hanya saja mungkin bagaimana nilai2 Islam itu tidak terkesampingkan dengan alasan kompetisi itu, seperti Dek Nori sebut, menjadi suatu hal yang harus dipertimbangkan pihak penyelenggara institusi ini. Trims Dek untuk tanggapannya

14 Desember 2009 09:24
0

kalo saya melihatnya masih Jahiliyah justeru Bang Zul, kenapa saya katakan masih jahiliyyah, ya beberapa diantara mereka seperti tidak pernah mencecap public relation. Namun tentu saja Bang, kita juga harus berfikir secara positive karena barangkali Bank Syari’ah di Indonesia belum begitu lama berdiri sehingga masih dalam tahap merintis. Namun jika bank Syari’ah tersebut sebagai bagian dari Bank Konvensional seperti Bank Mandiri atau BCA misalnya, seharusnya mereka sudah bisa menerapkan sistem layanan pelanggan, bahwa pelanggan adalah raja, nah saya melihat bank Syari’ah bank Syari’ah yang banyak berdiri di desa-desa belum bisa menjadi bunga harum karena belum memiliki kesadaran layanan pelanggan yang tinggi, seperti yang sudah dijalankan oleh bank/ perusahaan besar

14 Desember 2009 | 09:30
0

Nah, setuju Dudi, dan ini sebuah potret lainnya sudah Dudi sampaikan dengan jujur. Semoga pihak Institusi Bank Syariah –kembali– mengkaji lebih dalam persoalan layanan, agar bisa bermanunggal bersama rakyat dan lepas dari jahiliyyah seperti yang Dudi sebutkan.

Trims Dudi

14 Desember 2009 | 09:39
0

tapi jangan disalahartikan ya bang, maksud jahiliyah hanyalah sebagai analogi terhadap belum pahamnya mereka akan pentingnya layanan terhadap nasabah, atau kalo dalam istilah feature dikenal dengan istilah humant interestnya tidak ada,,,jika bank syariah memiliki orientasi menolong orang miskin tentu yang dikedepankan adalah bagaimana mereka mampu menyentuh mereka dengan segala program layanan nasabahnya…nah ini jangankan menyentuh nasabah dengan menjadi bunga harus, untuk pinjam beberapa ratus ribu saja diharuskan memenuhi syarat-syarat yang barangkali memberatkan…

14 Desember 2009 | 09:46
0

Mirip dengan Bunda Pipiet Senja sebutkan diatas Dudi. Memang, ini sebuah hal yang realistis yang memang lebih baik kita katakan terus terang. Daripada karena alasan kita Muslim, terus menabur pujian untuk Bank Syariah malah akan memurukkan institusi itu. Jadi teringat dengan beberapa perusahaan luar, mereka memang mencari orang yang bisa mengkritik mereka untuk dibayar. Dan model kritik kita semoga juga menjadi kontribusi positif untuk Bank Syariah lebih cermat kedepan dalam melihat need dari nasabah.

Trims Dudi untuk klarifikasinya (baik juga agar tidak ada mispersepsi)

14 Desember 2009 11:08 via Mobile Web
0

q jg idem dg para kmpasianer yg ga ngeh ttg bank syariah..(tabungan ja blm pnya..hahaha..). Tp masukanny emang positif ..mg2 ja didngar o bank syariah :-) *tp, q sdr,trus trang, blm da ketertarikan u mjd nasabah bank syariah..ga tau ya…mkn,krn kesanny ‘terlalu’ eksklusif tu yg bkin q g berminat..q msh lbh memilih menabung di bank yg sifatny lbh universal (caillah! Universal…:-P. Mkn mksdny u smua kalangan kali..,bkn cm u gol ttt,misalny). Kalo g pngen makan riba,ya narik duitny g sah sm bungany..kalo pemikiranq msh spt itu…maaf ya,bang kalo da yg menyinggung.. *

14 Desember 2009 | 19:28
0

Kita sah saja berpendapat adikku, itu memang satu hal yang cerdik juga jika persoalan riba menjadi ‘alasan’. Mungkin, jika kita menjadikan alasan bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk ikut serta menunjukkan nilai universalitas Islam (include: muamalah/ perbankan), maka tentu akan menjadi sebuah alasan yang lebih “touch”, mungkin gitu ya.

Masukan dan alasan dari Dek Novi abang yakini menjadi bahan kajian tambahan juga yang memang harus dipertimbankan pihak Bank Syariah dimanapun. Karena jelas, tidak semua memilih Bank Konvensional hanya karena alasan untuk mendapatkan bunga (namun bisa karena pertimbangan kenyamanan)

14 Desember 2009 12:08
0

kalo saya ga terlalu ambil pusing dengan bank itu mau memberi bunga atau tidak, karena walau ada bunganya pun yg di terima kalah besar dgn biaya administrasi yg harus dibayar, wong duitnya ga ada hehe…

yg jadi masalah adalah, sudahkah bank syariah itu memberi pelayanan, fasilitas dan segala macam tetek bengeknya benar-benar sesuai dengan kaidah/aturan dalam islam seperti yg mereka gembar-gemborkan? kalau masih melenceng, dan prakteknya sama dengan bank konvesional untuk di sebut bank syariah???

saya juga nasabah bank syariah, yg saya rasa selama ini hanyalah pelayanan mereka yg lebih lama di banding Bank lain, apa karena kurang personil? entahlah.

tapi untuk Bang Zul…ga ada yg indah seindah bunganya mba inge hehehe….bunga dahlia :)

14 Desember 2009 | 19:33
0

Haha, jadinya berubah ke Bunga Inge hehe
Anyway, senada dengan Novi juga tuh Nat, sepertinya memang persoalan layanan ini yang mesti menjadi bagian prioritas pihak Bank Syariah

Trims Nat

14 Desember 2009 14:13
0

Pelayanan yang dilandasi rasa cinta, harum semerbak laksana bunga. itulaah yang memang segarusnya dilakukan bank yang membawa label syariah Islam. Kalo gak bisa, ya canti aja label lain. Jangn cuma jual nama tak dibarengi bukti nyata.
salam hangat dan tetap samngat

14 Desember 2009 | 19:34
0

Saya kira masukan Pak Imam ini adalah sebentuk kejujuran dan harapan yang memang sangat realistis, untuk adanya sinkron antara filosofi dan tindak nyata.

Trims Pak Imam

14 Desember 2009 | 19:46
0

sama-sama Bang, apa sih yg nggak buat abang hehehehe….

14 Desember 2009 | 19:47
0

Wuih, Nath paling bisa dah hehehe. Trims sekali lagi

14 Desember 2009 14:55
0

Klu bunga yang dipersembahkan ke adk merupakan bunga yang diambil di taman orang tanpa seizin pemilik, mungkin hukumnya haram juga ya? Hehehe… Yang jelas itu tak ada hubungannya dengan apa yang sudah ab’ tulis di sini. Banyak orang yang belum mengerti mengenai sistem di bank syari’ah. Seperti : apa dan bagaimana pembagian hasil itu? dan benarkah itu bukan bunga?
Dan alangkah baiknya bila pihak bank mencari tau kenapa masyarakat bisa tidak tahu sehingga bisa dicari solusinya atas ketidaktahuan tersebut.

14 Desember 2009 | 19:39
0

Persoalan bagi hasil dan bunga jelas berbeda, dan itu memang sudah banyak di bahas oleh penulis artikel lain di iBI dan brosur iBI (setau abang lho).

Trims cantik

14 Desember 2009 | 23:15
0

Masyarakat biasa b’, yang bekerja di pasar atau biasa seharian di jalanan, tidak membuka2 artikel di iBI maupun mendapatkan brosur apapun yang dimaksud. Masalah bagi hasil dan bunga, masih banyak orang yang pemahamannya samar-samar. Contohnya saja, dalam dua tahun ini, ketika adk masih aktif sebagai penyiar, banyak diadakan dialog-dialog mengenai masalah ini baik mengundang ustadz sebagai salah satu nara sumber maupun tidak. Tapi itupun tetap tidak membantu meningkatkan pemahaman masyarakat.

Kenapa? Sudah seharusnya mencari solusinya kan..?

Btw, tulisan ab’ ini memang manis..

14 Desember 2009 | 23:34
0

Sepertinya, semua yang adek uraikan ini menjadi sebuah hal yang memang harus dipertimbangkan oleh pihak iBI. Bener, tidak semua orang bisa mendapat brosur itu. Dan memang, sepertinya juga harus ada semacam alternatif lain juga yang lebih menyentuh masyarakat luas, gitu ya

14 Desember 2009 | 23:43
0

CERDAS, hehehe… :-*

15 Desember 2009 00:27
0

Maaf Nih Pak Zulfikar saya agak melawan arus, biasanya yang melawan arus babak belur hehehe.
Menurut saya yang bodoh tentang hukum agama
sekecil apapun presentasenya bunga tetap saja riba bila didahului oleh suatu perjanjian atau suatu ketentuan, kecuali kalau yang pinjam mengembalikan pokok ditambah kelebihannya dengan dasar rasa terima kasih karena telah dibantu. Tapi apakah orang akan sadar memberi lebihnya atas rasa terima kasih ? Dapat dipastikan Bank akan segera bangkrut. Saya memiliki kisah nyata tentang permainan hukum agama demi kepentingan pribadi. Dan saya pikir apabila penabung menyimpan uangnya dengan mengharapkan bunga, menurut keyakinan saya tetap saja riba hukumnya, kecuali niatnya untuk menyimpan uang supaya lebih aman, ada lebihnya ? itu rejeki. Jadi menurut saya kembali lagi pada niat awal. Kebetulan saya memiliki sebuah tulisan yang didasari kisah nyata

http://filsafat.kompasiana.com/2009/11/14/upaya-menipu-allah/

Maaf sekali lagi maaf bukan berniat destruktip, ini hanyalah keyakinan diri pribadi bukan untuk mempengaruhi orang lain

15 Desember 2009 | 03:57
0

Terima kasih saudaraku tercinta, tentu ini merupakan masukan yang sangat positif dan sangat layak untuk dikaji lagi bersama, tentunya juga pihak perbankan syariah di negara kita.
Tenang gak akan babak belur lho Pak Wawan, justru yang melawan arus yang sering berhasil menempati kursi “Manusia Sejati”

16 Desember 2009 15:08
0

Manajemen Bank Syariah seharusnya harus berbeda dengan Bank Konvensional. Pelayanan dan suku bunga tentunya jadi sorotan. Tulisan ini begitu unik dan semoga dapat menjadi sebuah masukan yang arif bagi pengelola Bank Syariah itu sendiri.

5 Januari 2010 14:10
0

hehehehe aya-aya wae

23 Januari 2010 15:54
0

Bung Zulfikar Akbar !
Maaf terlambat — tetapi masih lebih baik, dari pada saya ketinggalan total.
Terus terang saya belum mendalami Konsep Bank Syariah —maaf, mungkin saya menyimpulkan bahwa kedua konsep perbankan itu, itu simple bedanya—terutama “soal bunga”
Dari konsep ekonomi (konvensional) Pemilik Tanah berhak atas sewa tanah — pemilik Tenaga berhak atas Upah — pemilik modal berhak atas dividen atau pembagian keuntungan —pemilik uang berhak atas bunga. Perbedaan dengan Islam “fungsi Uang” bukan semata-mata hak/aset maka menerapkan “sistem bunga” diharamkan. Bunga uang bisa berkonotasi penghisapan hak orang lain—berbeda dengan Asset Tanah atau Tenaga - Penyertaan dalam permodalan usaha. Nah- Bank Syariah (maaf saya belum memeriksa Hukum Muammalat) memperlakukan uang nasabah di Bank-nya dalam konsep “turut bekerja” seperti penyertaan dalam modal usaha—penghargaan atas kerja uang nasabah di satuan waktu–kiranya adil memperoleh bagian keuntungan hasil kerja.
Mudah-mudahan jadi bahan diskusi yang sesuai.
Tulisan anda di atas luar biasa— ada satu hal lain yang anda kaitan dengan operasional Bank Syariah, sebagai lembaga “kepercayaan” dan lembaga perusahaan yang operasional —yang bersaing dan harus mempunyai differensiasi (baca Marketing per bankan ) —konsep anda BERIKAN BUNGA SILATURRAKHMI YANG MEYAKINKAN SEBAGAI BANK SYARIAH, Sambutlah segera nasabah, layani nasabah dengan senyum dan harapan-persaudaraan, dan Insya Allah hasil kerjasama lebih baik dari bunga bank konvensional.
Salam terimaksih, dan Hebat !

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2009