Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Ib Bloggercompetition

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Yoe

saya menulis elok di buku garis 5, mengarang bebas di kertas folio, kemudian teknologi mempertemukan saya dengan komputer, maka saya menulis di tut..tut keyboard-nya... dan memotret dengan lensa-bernama Canon... kini, saya bertemu angka, meja kerja, dan akhirnya duduk di kursi. tapi, saya tetap akan menulis... e-mail:yusako@yusako.com blogsite: http://yusako.com

Makan, Doa, Cinta, pokoknya kamu….

OPINI | 31 October 2009 | 23:32 611 6 1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik

Makan, Doa, Cinta, pokoknya kamu….

Kalau ngomongin soal perbankan syariah, wuih deh pokoknya.. wis susah berhentinya.
mangan ora mangan yang penting ngumpul.. kayanya ga juga yah? jaman sekarang, orang laper bisa makan orang.. Nah, lhoh, mending kita ngumpul dan ngobrolin tema yang satu ini, semoga bermanfaat..

Apa sih Bank Syariah? Kenapa siyh mesti bank syariah? Kuncinya; Makan, Doa, dan Cinta.. ;)
dalam perspektif-nya, bank syariah berperan meningkatkan kesejahteraan umat dengan proses intermediasi penghimpunan jasa keuangan dan penyalurannya berdasarkan pada prinsip syariah.

Masih belum ngerti apa saja yang dimaksud prinsip syariah, kawan? yup…kita lahap saja dulu, anggap saja karedok lenca.. pedes-pedes tetep kita lahap terus memakan-nya.. *hehe* kita kenalan sedikit demi sedikit.. hayu…

Keunggulan bank syariah dari segi operasional bisa dilihat dari kegiatan usahanya yang sudah dilakukan secara profesional. Saya datang ke Bank Muamalat, tepatnya di kantor pusat operasional-nya, di Dukuh Atas, Sudirman. “Ungu, sakral, Islam, Syariah..” itu empat kata yang terlintas di benak saya pertama kali.

Dari kesan pertamanya, saya cukup kagum, dengan seragam ungu-ungu, baik lelaki dan juga wanita rapi. Bahkan satu hal yang saya tidak habis pikir, di kantor yang beroperasi secara profesional ini, seragam laki-lakinya nampak sangat sederhana, koko dan peci. Bahkan satpam-nya pun, berpeci. Padahal, saya perhatikan di sekeliling saya, banyak nasabah lain yang duduk dengan santainya, memakai pants, sandal hak tinggi, rambu blonde, dan yang lebih menarik lagi, saya berasa sedang berada di pesawat terbang internasional, karena di sana saya melihat Chinese, dan ada juga bule Eropa.

Dengan sepak terjang-nya selama 18 tahun, ternyata tidak melunturkan semangat bank yang jadi pelopor syariah ini dengan menampilkan icon syariah, namun tetap profesional… Di mana lagi jaman sekarang di pulan Beton (baca: Jakarta), ada sebuah institusi bisnis perbankan yang memakai seragam sehari-harinya adalah koko dan peci. Di sini, koko dan peci bukan sekedar simbol agama semata, melainkan menjadi pembeda, katakan: berani basmi riba. Semoga (saya berdo’a)

Setelah peci tadi, saya coba sedikit masuk ke bahasan apa saja siyh implementasi dari prinsip ekonomi Islam itu? Ada tiga sedikitnya yang saya pahami; pelarangan riba dalam berbagai bentuknya, tidak mengenal “time-value of money”, dan uang sebagai alat ukur, bukan sebagai komoditi yang diperdagangkan. Selain itu, fungsi Bank Islam pun melengkapi fungsi bank yang selama ini kita kenal: penghimpun dana dan penyaluran dana kepada masyarakat.Namun, dengan azaz kemitraan, keadilan, dan transparansi keadilan…

Fungsi itu adalah fungsi sosial. Kenapa begitu? Saya mencoba memasukan kartu ATM saya ke mesin ATM, lalu kemudian memasukan 6 digit PIN..dan tampillah… informasi saldo, tranfer..bla..bla..bla.. dan, Zakat, Infaq, dan Shodaqoh… Ini dia yang tidak dijumpai di bank konvensional, ya kan? sebagai nasabah, kita dimudahkan dalam membayar zakat, infaq, dan shodaqoh, yang dalam ajaran umat Islam, itu semua menjadi pembersih harta kita dan pahala yang tidak ada putusnya. Saya pun tersenyum sendiri, sambil menatap ke atas kotak ATM, dan ternyata saya tersenyum ke arah CCTV. :)

Setelah itu, sambil melihat-lihat interior di banking hall, pandangan saya terpincut ke arah bunga di vas bunga yang diletakan di meja customer service, indah. Kemudian, dalam hati saya pun mengucap rasa syukur karena telah bertemu tempat yang menentramkan hati… Apalagi, waktu saya datang, tidak lama solat Dzuhur, maka hampir seluruh pegawai bank itu solat berjamaah. Hal yang tidak lazim saya lihat di perkantoran yang sangat aktif dan dinamis seperti di Jakarta ini.. Dan, mengakhiri salam, saya pun berdo’a, semoga memang ini jalan yang benar yang saya pilih untuk ikut dalam gelombang cinta pada bank syariah…

Yulianti Eka Sasmita.

Tulisan ini dalam dilihat pula di http://yusako.blogspot.com || gambar dipinjam dari http://catherinemaname.files.wordpress.com


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012