

Suatu malam di Masjid Kampus UGM Yogyakarta. Ceramah tarawih dari Ustadz Ir. H. Abu Haris, M.Ag., seorang pakar ekonomi Islam. Beliau mengisahkan pengalaman berceramah di Australia. Dalam kesempatan itu, Ustadz Abu Haris menyampaikan tema ekonomi Islam. Beliau mengatakan, membicarakan ekonomi Islam simple. Cukup mengupas Surat Al A’raaf ayat 96, yang berbunyi: “
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Setelah menyampaikan ayat ini, saat sesi tanya jawab, ada jama’ah yang bertanya, “Ustadz, sudah berapa kali datang ke Australia?” Kemudian Ustadz Abu Haris menjawab, “Baru kali ini”. Sang penanya menimpali, “kalau begitu Ustadz salah menyampaikan ayat ini kepada kami. Cubalah ustadz berkeliling seluruh Australia . Tidak akan ustadz temui orang-orang miskin dan melarat. Bahkan penganggurpun diberi uang 400 dollar Australia tiap bulan oleh pemerintah (1 dollar Australia setara Rp. 8.000-an). Sekolah dari Tk sampai perguruan tinggi gratis. Rumah sakit gratis. Padahal Australia ini negeri Kafir. Kami tidak butuh ceramah ustadz ini. Silahkan pulang saja ke Indonesia.”
Mendapatkan serangan seperti itu Ustadz Abu Haris terperanjat. Baru sekali ini ia mendapatkan pertanyaan menohok saat memberikan ceramah. Kemudian, setelah menahan emosi beliau menjelaskan, “Ada dua rumah. Yang satu kecil, kotor, dengan perabotan sederhana. Kalau bertamu, mungkin hanya disodorkan segelas air putih saja. Rumah kedua: besar, mewah, megah, dengan berbagai perabotan yang mengisi tiap sisi ruang. Apabila bertamu, akan disuguhi hidangan-hidangan enak membangkitkan selera… Menurut bapak-bapak, manakah di antara rumah itu yang Islami.” Jama’ah menjawab, “rumah yang kedua Ustadz.”
Beliau melanjutkan, “Rumah pertama, dihuni oleh keluarga buruh tani, yang setiap harinya membanting tulang, memeras keringat, mengarap sawah orang dengan upah pas-pas-an. Sehingga hanya rumah itulah yang mampu dia bangun dari hasil kerja kerasnya…. Rumah kedua yang mewah itu, penghuninya adalah pencuri. Setiap jengkal dan seluruh perabotan ia dapatkan dari maling, dan merampai milik orang lain”. Spontan saja, sang penanya tadi angkat bicara, “Berarti Ustadz menuduh Australia ini negara pencuri???” Dengan lugas Ustadz Abu Haris menjawab, “Iya”. Kemudian Beliau mengeluarkan uang lusuh Rp.1000 dari dompet. “Bapak-bapak masih ingat dengan uang ini??? Apa yang bisa didapatkan dengan uang segini??”. Beberapa saat kemudian Ustadz mengeluarkan uang 100 $Aus. Seiring dengan itu, beliau mengeluarkan HP kamera dibeli di Indonesia dengan harga Rp. 800-an ribu. “Bapak-bapak, apakah dengan Rp. 1000, saya bisa membeli HP ini?… Tapi apakah dengan dengan uang 100 $Aus, ini saya bisa mendapatkan HP ini??… Manakah yang lebih besar 1000 atau 100???…” Jama’ah hanya diam terpaku. Jikalau dulu kolonialisme dan imperialisme mesti menyiapkan dana yang besar untuk merampas kekayaan suatu negeri, menyiapkan kapal, pekerja, pasukan, senjata, maka hari ini bentuk penjajahan yang terjadi lebih canggih. Penjajahan lebih halus melalui alat tukar yang bernama uang kertas. Kalau kita cermati, biaya produksi uang Rp. 1000 dengan 1000 $Aus tak jauh berbeda. Tapi mengapa ketika dibelanjakan, jauh berbeda?
Bagaimanakah kita mendatangkan dollar ke Indonesia??? Dengan menjual minyak, gas, batubara, kayu, rotan, barulah kita bisa mendapatkan kertas-kertas yang ditulisi dengan angka-angka itu. Kekayaan alam kita ditukar dengan uang-uang kertas yang tak sebanding disobek sedikit saja sudah tak laku. Dalam Islam, tidak ada penipuan dan penindasan seperti ini. Mata uang yang ditakrir oleh Rasulullah, dan digunakan sebagai alat tukar internasional sampai kekhalifahan Utsmani adalah dinar dan dirham yang terbuat dari logam mulia, emas. Barang yang ditukar mendapatkan nilai yang sebanding. Itulah syariat yang ditinggalkan oleh umat Islam saat ini. Baru satu syariat yang ditinggalkan, apa dampaknya??? Luar biasa. Kemiskinan, kemelaratan, dan kelaparan merajalela di negeri-negeri Islam. Maka benarlah firman Allah,
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaahaa: 124)
Menyambung apa yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haris di atas, saya hendak menyampaikan fenomena yang semakin membuat Indonesia semakin terpuruk, yakni berduyun-duyunnya putra-putri terbaik bangsa menjadi kaki tangan penjajah. Ikut berkontribusi menjarah kekayaan alam dari negeri yang permai ini. Menjadi buruh-buruh kapitalis multinasional membawa gelondongan emas, minyak, gas, kayu keluar dengan upah kertas dollar yang tak sebanding dengan kemiskinan sekian ratus juta manusia Indonesia yang ditimbulkan karena perampasan terang-terangan ini. Di sisi lain, putra-putri terbaik bangsa berduyun-duyun mempelajari ekonomi kapitalis, menjadi pekerja ribawi di bank-bank konvensional. Menyerang syariat, dengan mengatakan ekonomi Islam tidak membawa kesejahteraan bagi kami. Ya, inilah wajah Indonesia. Bukan satu syariat yang dilanggar, tapi puluhan, bahkan ratusan, atau mungkin ribuan syariat sudah dilanggar. Maka, apakah pantas Allah memberikan rahmatnya kepada negeri yang penduduknya durhaka???
Mudah2an kita termasuk orang yang diselamatkan Allah dari azab, bukan sebagai orang yang menantang Allah dengan argumentasi-argumentasi yang tampak ilmiah, tapi sesungguhnya hanya pesanan dari penjajah yang akan terus mengeruk harta negeri ini hingga habis tak tersisa. Semua berpulang kepada kita, hendak menjadi pembela panji syariah ataukah bergabung bersama komplotan penindas bangsa sendiri…

Sayang seorang sarjana nggak ngerti bahwa dinar itu dikaitkan dengan harga emas,sedangkan harga emasnya naik turun.,bahkan cenderung naik terus. Pelajari dahulu bretton wood baru kasih ceramah. Kemiskinan satu negeri atau kemakmuran bukan karena agama. Banyak negeri2 dfi Afrika dan Amerika Latin yang masih miskin walaupun menganut agama kristen. Cina yang atheis sangat maju, begitu juga vietnam akan segera menyusul. Jangan salah paham bukan saya menganjurkan menjadi atheis tapi hanya membuktikan bahwa nggak ada hubungan antara agama dan kemakmuran
Yang menjadi kunci adalah pemimpin yang mau memikirkan bangsanya, tidak tergantung pada agama yang dianut.Indonesia sempat memiliki pemimpin seperti itu sampai tahun 1959, makin lama makin hilang.Muncul tokoh2 Islamyang justru bodoh dan pan dir
+1
-1

Sebetulnya kita gak paslah mencampur adukan antara agama dan ekonomi. Mesti realistilah kita melihatnya, sebagai seorang ahli agama seyogyanya bicara tentang agama karena dia bukan ahli ekonomi. Yang bukan ahlinya ikut campur urusan yang bukan bidangnya pasti lebih banyak ngaconya, begitu juga orang yang ahli agama bicara ekonomi, kalau dia ngaco yang jelek itu nama agamanya. Sebaliknya juga ahli ekonomi, ngasih ceramah agama tentunya gak selihai ahli agama, bisa jadi ujungnya ribut kalau salah persepsi.
Indonesia negara sekular, ada pemisahan kehidupan negara dan kehidupan beragama, cuma masyarakatnya yang sering mencampur adukkan, akibatnya kalau rakyat ini miskin bisa jadi orang menilai karena tokoh islamnya yang bodoh. Jelas tokoh islam disebut bodoh karena ikut campur keurusan ekonomi yang memang bukan bidangnya….. Artinya, cara berpikir yang mencampur adukan urusan agama dan ekonomi hanya akan membuat jelek citra islam saja. Kalau memang lulusan IAIN sudah pandai dalam segala hal…..mengapa gak ditutup aja universitas2 yang lain….
+1
-1

Tulisan Anda bagus. Namun perhatikanlah bagaimana isi tulisan bisa tersampaikan. Tirulah cara Ustadz Dwi Condro Triono. Beliau adalah tokoh idola saya!
+1
-1

@ Ken Arok: Saya rasa tidak ada dasar utk mengatakan Indonesia negara sekuler… Buktinya saja masih ada sila ketuhanan di konstitusi kita (baca: Pancasila)…
@ Langmerdi: Kalapun harga emas naik-turun, dia jauh lebih stabil ketimbang uang kartal.
+1
-1
Guest User